The konflik Rusia-Ukraina menjadi sorotan dunia, memengaruhi geopolitik global, dan menimbulkan pertanyaan mendasar: kapan sebenarnya perang ini dimulai? Untuk memahami akar permasalahan dan kronologi konflik ini, kita perlu menelusuri sejarah panjang hubungan antara Rusia dan Ukraina, serta berbagai peristiwa penting yang memicu eskalasi hingga mencapai titik perang terbuka. Guys, yuk kita bedah satu per satu biar makin paham!

    Akar Sejarah Konflik Rusia-Ukraina

    Hubungan antara Rusia dan Ukraina memiliki sejarah yang kompleks dan bergejolak, jauh sebelum invasi skala penuh pada tahun 2022. Kedua negara berbagi akar budaya dan sejarah yang sama, berasal dari peradaban Slavia Timur yang berpusat di Kyiv. Namun, selama berabad-abad, wilayah Ukraina menjadi arena perebutan kekuasaan antara berbagai kerajaan dan imperium, termasuk Polandia, Lithuania, Austria-Hongaria, dan Rusia. Sejak abad ke-17, sebagian besar wilayah Ukraina berada di bawah kendali Kekaisaran Rusia, yang kemudian menjadi bagian dari Uni Soviet. Meskipun Ukraina mendeklarasikan kemerdekaannya pada tahun 1918, kemerdekaan ini hanya berlangsung singkat karena wilayah tersebut kemudian dibagi antara Uni Soviet dan Polandia. Pada masa Uni Soviet, Ukraina mengalami berbagai tragedi, termasuk kelaparan buatan yang dikenal sebagai Holodomor pada tahun 1932-1933, yang menewaskan jutaan warga Ukraina. Peristiwa ini meninggalkan luka mendalam dalam ingatan kolektif bangsa Ukraina dan memperkuat sentimen nasionalisme. Setelah runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, Ukraina mendeklarasikan kemerdekaannya dan diakui oleh dunia internasional, termasuk Rusia. Namun, hubungan antara kedua negara tetap tegang karena berbagai isu, termasuk status Semenanjung Krimea dan Laut Hitam, serta orientasi geopolitik Ukraina.

    Peristiwa-peristiwa Penting Sebelum 2014

    Sebelum tahun 2014, hubungan antara Rusia dan Ukraina sudah diwarnai oleh beberapa peristiwa penting yang meningkatkan ketegangan. Salah satunya adalah Revolusi Oranye pada tahun 2004, ketika rakyat Ukraina memprotes hasil pemilihan presiden yang dianggap curang. Rusia melihat revolusi ini sebagai campur tangan Barat dalam urusan dalam negeri Ukraina dan sebagai ancaman terhadap kepentingannya di wilayah tersebut. Selain itu, masalah harga gas alam juga menjadi sumber perselisihan antara kedua negara. Rusia sering menggunakan harga gas sebagai alat tekanan politik terhadap Ukraina, yang sangat bergantung pada pasokan energi dari Rusia. Pada tahun 2009, terjadi krisis gas yang menyebabkan gangguan pasokan gas ke Eropa, yang semakin memperburuk hubungan antara Rusia dan Ukraina. Meskipun ada upaya untuk menyelesaikan masalah-masalah ini melalui negosiasi dan perjanjian bilateral, ketegangan tetap tinggi dan menjadi landasan bagi konflik yang lebih besar di masa depan. Jadi, sebelum 2014 pun, situasinya udah panas banget, guys!

    Krimea dan Donbas: Titik Balik Konflik

    Titik balik dalam konflik Rusia-Ukraina terjadi pada tahun 2014, dengan aneksasi Krimea oleh Rusia dan pecahnya perang di wilayah Donbas, Ukraina timur. Setelah Revolusi Maidan pada awal tahun 2014, yang menggulingkan Presiden Ukraina yang pro-Rusia, Viktor Yanukovych, Rusia melakukan intervensi militer di Krimea, sebuah semenanjung yang mayoritas penduduknya adalah etnis Rusia. Setelah referendum kontroversial, Krimea secara resmi dianeksasi oleh Rusia pada bulan Maret 2014, sebuah tindakan yang dikecam oleh Ukraina dan sebagian besar komunitas internasional sebagai pelanggaran hukum internasional. Pada saat yang sama, konflik bersenjata pecah di wilayah Donbas, antara pasukan pemerintah Ukraina dan kelompok separatis yang didukung oleh Rusia. Konflik ini telah menyebabkan ribuan kematian dan jutaan orang mengungsi, serta menciptakan krisis kemanusiaan yang parah. Meskipun ada upaya untuk mencapai solusi damai melalui perjanjian gencatan senjata, seperti Protokol Minsk, pertempuran terus berlanjut dengan intensitas yang bervariasi. Aneksasi Krimea dan perang di Donbas menandai eskalasi signifikan dalam konflik Rusia-Ukraina dan mengubahnya menjadi krisis keamanan regional yang serius.

    Eskalasi Menuju Invasi Skala Penuh 2022

    Setelah tahun 2014, konflik Rusia-Ukraina memasuki fase baru yang ditandai dengan eskalasi bertahap dan peningkatan ketegangan militer. Meskipun pertempuran di Donbas terus berlanjut, ada juga upaya diplomatik untuk mencari solusi politik, termasuk negosiasi dalam format Normandia yang melibatkan Ukraina, Rusia, Jerman, dan Prancis. Namun, upaya-upaya ini gagal menghasilkan terobosan signifikan, dan kebuntuan politik tetap berlanjut. Pada tahun-tahun berikutnya, Rusia meningkatkan kehadiran militernya di dekat perbatasan Ukraina, melakukan latihan militer skala besar, dan melancarkan kampanye disinformasi yang bertujuan untuk mendiskreditkan pemerintah Ukraina dan memecah belah masyarakat Ukraina. Puncaknya terjadi pada akhir tahun 2021 dan awal tahun 2022, ketika Rusia mengerahkan lebih dari 100.000 tentara di dekat perbatasan Ukraina, yang memicu kekhawatiran akan invasi skala penuh. Meskipun ada seruan dari komunitas internasional untuk de-eskalasi, Rusia tetap bersikeras bahwa pihaknya memiliki hak untuk melindungi kepentingannya di wilayah tersebut dan menuntut jaminan keamanan dari NATO. Ketegangan terus meningkat hingga akhirnya, pada tanggal 24 Februari 2022, Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina, menandai dimulainya perang terbuka antara kedua negara. Jadi, eskalasinya itu bertahap banget, guys, sampai akhirnya meledak di 2022.

    Invasi Skala Penuh 2022: Awal Perang Terbuka

    Invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada tanggal 24 Februari 2022 menandai awal perang terbuka antara kedua negara dan eskalasi dramatis dalam konflik yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Serangan Rusia dimulai dengan serangan udara dan rudal yang menargetkan fasilitas militer dan infrastruktur penting di seluruh Ukraina, diikuti oleh invasi darat dari berbagai arah. Pasukan Rusia menyerbu Ukraina dari utara, timur, dan selatan, dengan tujuan merebut Kyiv, menggulingkan pemerintah Ukraina, dan menduduki wilayah-wilayah penting. Invasi ini dikecam secara luas oleh komunitas internasional sebagai pelanggaran hukum internasional dan agresi yang tidak beralasan. Negara-negara Barat memberlakukan sanksi ekonomi yang berat terhadap Rusia dan memberikan bantuan militer dan kemanusiaan kepada Ukraina. Rakyat Ukraina menunjukkan perlawanan yang gigih terhadap invasi Rusia, dengan ribuan warga sipil bergabung dengan militer dan membentuk unit pertahanan teritorial. Meskipun Rusia menguasai beberapa wilayah di Ukraina, pasukan Ukraina berhasil memperlambat kemajuan Rusia dan mempertahankan kota-kota penting seperti Kyiv dan Kharkiv. Perang di Ukraina telah menyebabkan krisis pengungsi terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II, dengan jutaan warga Ukraina mengungsi ke negara-negara tetangga. Jadi, invasi 2022 itu bener-bener game changer, guys!

    Kesimpulan

    Jadi, guys, perang Rusia-Ukraina itu bukan cuma soal invasi 2022 aja. Akarnya udah panjang banget, dari sejarah kelam sampai intrik politik. Dari aneksasi Krimea sampai perang di Donbas, semuanya berkontribusi pada eskalasi yang akhirnya meledak jadi perang terbuka. Penting banget buat kita memahami konteks sejarah ini biar bisa ngerti kenapa konflik ini begitu kompleks dan sulit diselesaikan. Semoga artikel ini bisa memberikan pencerahan ya!